Senin, 16 Maret 2009

Belanjalah seolah gajimu sebesar uang pensiunmu

Suatu siang bulan Januari diruang kerja, saya kedatangan tamu dari luar kota. Berikut salah satu petikan pembicaraan menarik kami waktu itu.

”Untuk persiapan pensiun tahun depan, belanja istriku mulai aku kurangi”. Kata amu saya yang akan pensiun awal tahun 2010.
”Bagaimana menjadwalnya?” Tanya saya
”Karena saya akan menerima uang pensiun sebesar Rp1.500.000 per bulan, maka mulai Januari, istri saya beri uang Rp 6.000.000,00. mulai bulan Juli berkurang satu juta menjadi menjadi Rp 5.000.000,00, mulai Oktober saya kurangi lagi menjadi sebesar Rp 3.000.000,00 dan per Januari menerima uang pensiun sebesar Rp 1.500.000,00”
”Bagaimana istri bapak bisa mengubah belanja dari Rp 30.000.000,00 per bulan menjadi Rp 6.000.000,00. Apa tidak terlalu drastis?” tanya saya
”Apa boleh buat, itu harus diterima, karena saya tidak ingin istri saya kaget saat pensiun tiba, jadi harus saya siapkan dari sekarang. Meskipun ini terlambat, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali”
”Betul bapak”

Sungguh bijak keputusan bapak tersebut dalam mempersiapkan uang belanja istri menghadapi saat pensiun tiba. Tapi bagaimana bisa dijalankan ya? Mendadak sontak uang belanja di potong tinggal seperlima (20%)? Aduch peningnya....

Benar tindakan bapak tersebut, karena mau tidak mau memang uang pensiun yang diterima jauh dari jumlah yang diterima saat masih aktif, sehingga sangat bijaksana kalau mulai membiasakan diri membelanjakan uang bulanan sebesar penerimaan pensiun.

Nach, berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan agar bisa mengatur pengeluaran sesuai uang pensiun:
• Memahami bahwa uang pensiun tidak akan bertambah selama masa pensiun, sehingga pengeluaran juga harus dibuat seminimal mungkin meningkat secara total, walau mungkin secara parsial bisa meningkat, tetapi harus diimbangi dengan penurunan pengeluaran disisi yang lain.
• Menentukan kebutuhan dasar yang harus dibayarkan selama satu bulan. Hal ini bisa berupa belanja bahan pangan dan belanja keperluan pribadi yang lain.
• Hitunglah kebutuhan biaya listrik, air dan telepon yang paling efisien.
• Hitunglah biaya tranpsortasi (setelah menentukan apakah masih akan menggunakan mobil/kendaraan yang sama atau diganti dengan yang lebih irit bahan bakar)
• Hitunglah biaya kesehatan, hal ini tidak berarti biaya yang dikeluarkan karena kita sakit, tetapi juga biaya untuk membeli vitamin ataupun suplemen agar tetap sehat
• Tentukan apakah kita perlu ikut dalam asuransi jiwa.

Lha terus dikemanakan kelebihan uangnya dibelanjakan selama satu tahun menjelang pensiun? Sebaiknya kelebihan uang ini tidak dibelanjakan, tetapi diinvestasikan, sehingga uangnya tidak habis, tapi bisa menambah penghasilan sampai saat pensiun nanti tiba.

Coba kita hitung bersama, kalau pendapatan Rp 30.000.000,00 dibelanjakan hanya Rp 6.000.000,00 berati ada sisa Rp 24.000.000,00. Katakan dideposito dengan bunga 12% per tahun berati mendapat bunga Rp 240.000,00 dipotong pajak 20% (Rp48.000,00), sehingga uang yang diterima bersih sebesar Rp 192.000,00.
Bulan Februari deposito bertambah sebesar Rp. 24.000.000,00, berarti ada tambahan bunga yang didapat sebesar Rp 192.000,00. Dan akan terus bertambah bertambah dalam jumlah yang sama sampai dengan bulan Juni.
Mulai bulan Juli sampai dengan September, uang deposito meningkat menjadi sebesar Rp 25.000.000,00 (Rp30.000.000,00 – Rp 5.000.000,00). Dengan asumsi bunga 12% maka bunga deposito sebesar Rp250.000,00 dipotong pajak 20% (Rp50.000,00) sehingga bunga bersih diterima sebesar Rp200.000,00
Sedangkan bulan oktober sampai dengan desember jumlah deposito berubah menjadi Rp 27.000.000,00 per bulan (Rp30.000.000,00 – Rp 3.000.000,00). Bunga depositonya menjadi Rp270.000,00 dikurangi pajak 20% (Rp54.000,00) maka bunga bersihnya sebesar Rp216.000,00

Jadi mulai bulan Januari yang diterima tidak murni Rp 1.500.000,00 saja dari uang pensiun, tetapi bertambah dengan bunga deposito sebesar Rp1.368.000,00 (akumulasi bunga deposito sejak bunga deposito pertama). Gunakan kelebihan dari penghasilan deposito ini bukan untuk kebutuhan pangan atau belanja pribadi, tetapi untuk rekreasi. Entah untuk mengunjungi saudara yang selama ini tidak pernah dikunjungi karena kesibukan bekerja atau untuk mengunjungi anak cucu yang sudah tidak tinggal serumah dengan anda lagi. Kecuali anda tetap tidak bisa hidup dengan uang pensiunan sebesar Rp1.500.000,00 per bulan, maka anda harus menetapkan biaya hidup minimal yang mungkin anda bisa kelola, misalkan sebesar Rp 3.000.000,00, maka gunakan kelebihan untuk ditabung kembali.

Selamat hidup hemat untuk kehidupan lebih baik dimasa pensiun.



Cara Cerdas Membelanjakan SANTUNAN HARI TUA (SHT)

Ada kisah seorang pensiunan mendapat uang santunan hari tua sebesar Rp 3.000.000.000,00 ( tiga milyar) dari perusahaan saat memasuki masa pensiun. Dua tahun kemudian orang tersebut sudah tidak mempunyai uang tersisa dan hidupnya berpindah dari satu anak ke anak yang lain.
Sungguh ironis.

Tapi itu bisa terjadi pada siapa saja, yang tidak siap dengan uang banyak ditangan secara tiba-tiba. Sangat berbeda dengan orang yang mempunyai uang banyak setelah bekarja keras selama puluhan tahun. Maka ada pameo yang mengatakan sesuatu yang gampang didapat akan gampang hilang/keluar. Sesuatu yang sulit didapat akan sulit pula kita lepaskan.

Kenapa bisa begitu ya?
Biasanya orang yang tiba-tiba punya uang banyak, akan bingung untuk mengelolanya. Yang paling awal muncul adalah membelanjakan untuk sesuatu barang yang selama ini tidak bisa diperoleh/dimiliki entah itu berbentuk makanan, pakaian, perhiasan, mobil, rumah ataupun barang-barang impian lainnya.
Dan kebanyakan barang yang diinginkan itu bukanlah barang produktif yang bisa menghasilkan uang atau income, tetapi barang konsumtif yang harganyapun akan menurun seiring dengan berlalunya waktu.

Yang kedua muncul adalah bisa jadi sebuah langkah yang benar, memulai usaha, dengan harapan uangnya akan bisa mendatangkan penghasilan dimasa mendatang. Namun kesalahan yang mungkin atau biasa terjadi adalah saat memulai usaha tergesa-gesa dan kurang perhitungan. Sehingga begitu ada ide atau tawaran teman langsung berpikir bahwa itu bisnis yang tepat, tanpa banyak pertimbangan langsung terjun ke bisnis tersebut.

Saya teringat tulisan Dahlan Iskan Bosnya Jawa Pos grup, dalam bukunya "Gant8i Hati", beliau bilang bahwa untuk bisa sesukses dan sekaya sekarang, bukan diperoleh dalam sekejap. Sambungnya, bahwa ilmu dagang itu dia pelajari sejak masih kanak-kanak dari orang tuanya. Dan dalam menjalankan usahanyapun dia juga mengalami jatuh bangun berulang kali.

Kesalahan berikutnya adalah tidak berpikir atau mungkin berpikir tapi sedikit kadarnya, bahwa uang yang diterima itu harus bisa menghidupi sampai ajal menjemput. Alih-alih berpikir untuk mengelola sampai saat mati tiba, lha wong mikir dan milih barang-barang impian yang ingin dan akan dibeli saja sudah menghabiskan waktu dan tenaga, jadi mana sempat mikir yang jauh itu.

Nach, agar kesalahan-kesalahan itu tidak terjadi, maka lakukan:
• Pilih dan tetapkan kehidupan yang ingin dinikmati selama 50 tahun kedepan (siapa tahu masih bisa menghirup udara sampai umur 105 tahun khan?). Atau terserah berapapun tahun yang anda ingin tetapkan.
• Kalkulasi kebutuhan/biaya hidup per bulan sampai dengan, katakan 50 tahun kedepan
• Kalkulasi pendapatan dari pesangon selama 50 tahun kedepan
• Kelola pengeluaran dengan bijak
• Tempatkan uang untuk investasi secara bijak
• Bila ingin memulai usaha, pilih yang anda ”cintai” dan lakukan survey kecil-kecilan untuk menghitung untung ruginya usaha/bisnis tersebut
• Tidak perlu tergesa-gesa membelanjakan uang untuk membangun usaha, sementara belum bisa dijadikan modal usaha, uang bisa di investasikan ke deposito atau reksa dana yang aman

Semoga tips pendek ini bermanfaat.
Wealthy is our choice

Jumat, 13 Maret 2009

Manajemen risiko (tulisan 4)


Suatu pagi di kelas, dalam acara presentasi makalah individu sebagai tindak lanjut mengikuti kursus. Seorang peserta bertanya pada peserta lain yang sedang menyajikan makalahnya tentang manajemen risiko.
"Apa standard perhitungan yang digunakan untuk menghitung risiko?"
"Ada banyak metode yang bisa digunakan, kami menggunakan statistik seperti analisa regresi, dan lain-lain"
Si penanya tidak puas dan terus mengejar dengan pertanyaan yang lain, sampai lelah sendiri.

Yach...dengan mulai ngetrendnya penerapan manajemen risiko di perusahaan-perusahaan, masih banyak hal-hal yang perlu dipahami bersama. Tulisan ini mencoba memberikan sedikit ulasan tentang 4 standard internasional yang digunakan dalam manajemen risiko.

1. Basel II. Standard ini muncul di Eropa dengan diawali Basel I tahun 1988. Basel I berprinsip bahwa modal bank tidak sama dengan risiko bank. Basel I juga hanya memperhitungkan credit risk dan berkembang dengan tambahan market risk amendment tahun 1996. Baru pada tahun 2004 muncul Basel II, yang menganggap bahwa modal bank sama dengan risiko bank. Risiko bank tidak hanya mencakup credit risk dan market risk, tetapi juga operation risk, yang biasa disebut dengan pendekatan berbasis model, sedangkan other risk dikenal dengan pendekatan tidak berbasis model. Other risk mencakup risiko bisnis, risiko strategis dan risiko reputasi. Basel II mulai diterapkan di Eropa tahun 2006/2007, sedangkan di Indonesia dicanangkan akan diterapkan pada tahun 2010.

2. AS/NZS 4360:2004.
Standard ini muncul dan berkembang di pasifik (Australia dan New Zeland). Standard ini memperhitungkan strategic risk, financial risk, operational risk dan hazard risk. Risiko strategik mencakup risiko legal, reputasi, peraturan dan perubahan bisnis. Risiko keuangan mencakup risiko harga, bunga, kredit, likuiditas, profitabilitas, solvabilitas dan risiko akuntansi. Risiko operasional mencakup risiko SDM, proses bisnis, organisasi, teknologi dan Teknologi Informasi (TI). Sedangkan hazard risk mencakup risiko kerusakan aset produktif, kematian dan kecelakaan kerja, dan risiko ancaman kelangsungan usaha. Framework penerapannya meliputi: mempelajari lingkungan pendukung, melakukan identifikasi risiko, analisis risiko, penyatuan dan sinkronisasi besaran risiko, membuat prioritas risiko terpenting, mengendalikan risiko, melakukan pengawasan dan review risiko.

3. ISO 31000. Standard ini diterapkan di semua jenis organisasi, semua jenis risiko tanpa perkecualian dan disemua negara. ISO 31000 direncanakan di terapkan paling lambat akhir 2008, meski sampai saat ini penulis belum mendengar kabarnya. Isi ISO 31000 mencakup definisi, prinsip-prinsip, kerangka kerja manajemen risiko, proses manajemen risiko dan attrubutes of excellence in risk management (annex A). Proses manajemen risiko dalam ISO 31000 sama dengan proses manajemen risiko di AS/NZS 4360:2004, begitu pula mengenai definisi dan diagram manajemen risiko. Implementasi manajemen risiko diperluas, secara langsung berhubungan dengan strategi operasional dan manajemen operasional. Prinsip-prinsip manajemen risiko disajikan secara eksplisit dan jelas.

3. COSO. COSO merupakan organisasi profesional yang didirikan tahun 1985 dengan visi menjadi pelopor bagi organisasi sipil dalam rangka memperbaiki kualitas sistem pelaporan keuangan. Kerangka kerja enterprise risk management (ERM) dipublikasikan pada tahun 2003. Kerangka kerja ini mencakup: monitoring, information & communication, control activities, risk assessment dan control environment. Tujuan perusahaan/bisnis dilihat dalam 4 konteks yaitu: stratejik, operasional, pelaporan dan ketaatan, sedangkan level aktivitas mencakup level perusahaan, divisi/bagian, dan unit bisnis. Faktor kunci implementasi meliputi: desain organisasi bisnis, pemantapan organisasi ERM, kinerja risk assessment, penentuan keseluruhan risk appetite, indentifikasi risk responses, komunikasi risk results, monitoring, dan review oleh manajemen.

Apapun strandard yang digunakan semuanya menggunakan dasar perhitungan yang membutuhkan ilmu matematika maupun statistik. Sehingga benar apa yang dijawab oleh penyaji makalah dalam pembuka tulisan ini, meski tidak menjawab pertanyaan si penanya. Semoga tulisan ini mampu menambah wawasan mengenai standard-standard yang dipakai dalam manajemen risiko.

Senin, 02 Maret 2009

Wealth Management (tulisan 3)

Pernahkah mengamati fenomena bermunculannya kaum muda kaya? Pernahkan juga mengamati, berapa orang dari mereka yang mengelola kekayaannya sejak awal? Atau berapa orang yang membelanjakan uangnya untuk hal-hal konsumtif? Atau mungkin mereka bingung tidak tahu dimana harus mencari pengelola kekayaan mereka?

Siapa penyedia jasa wealth management?
Jasa wealth management ditawarkan oleh bank umum, asset management, investment banking, private banking, brokerage, asuransi, independent financial advisor bahkan kantor akuntan. Meskipun yang paling umum adalah dari perbankan.

Setiap bank mempunyai nama dan jenis layanan yang berbeda, misal ABN Amro Indonesia memberi nama layanan untuk kaum berduit dengan Van Gogh Preffered Banking dengan saldo simpanan minimal sebesar Rp. 500 juta sedangkan Bank Syariah Mandiri memberi nama BSM Priority dengan saldo simpanan minimal sebesar Rp. 250 juta.Dengan keberagaman aturan yang ada, konsumen sangat diuntungkan dengan adanya banyak pilihan ini, sehingga perlu pandai-pandai memilih fasilitas layanan yang terkait dengan produk/jasa yang mereka tawarkan

Bagaimana masa depan wealth management?
Menurut Herry S Dent - ekonom demografi jebolan Harvard Business School yang mengawali karir sebagai konsultan manajemen - dalam buku terbarunya “The Next Great bubble Boom”, how profit the greatest boom in history 2006-2010 menggambarkan secara eksplisit masa depan wealth management.

Dunia akan menikmati bubble terbesar sepanjang sejarah, sebagian besar dipicu oleh ledakan konsumsi yang dilakukan oleh baby boomer, mereka yang lahir dalam kurun waktu 1946-1964 yang jumlahnya mencapai 100 juta orang. Mereka kebanyakan telah mencapai fase kebebasan keuangan (financial freedom), sehingga bebas untuk melakukan aktivitas konsumsi dan investasi yang mereka inginkan dan sangat fleksibel untuk diwujudkan, kondisi ini mengalami puncaknya sampai dengan tahun 2010.

Dengan pertumbuhan wealth management mencapai 16,8% (menurut data yang dilansir Capgemini Lorenz Corve Analisis) belum lagi pasar bancassurance naik 110% dari tahun lalu, yang menurut analisis tabloid kontan, hal ini berarti pasar wealth management masih besar dan nasabah masih banyak. Terlebih nasabah sekarang semakin sadar untuk berinvestasi baik yang berisiko kecil seperti dalam Surat Utang Negara (SUN) dan deposito maupun yang berisiko besar dalam valas dan saham pada saat krisis keuangan global sekarang ini.

Nach….karena manajer senior perkebunan masuk kriteria profesi yang berduit, kenapa tidak mencoba praktek ilmu ini, dan yang jelas, pasti semua orang tidak ingin menjalani masa pensiun dengan “mengenaskan” alias hidup dengan uang pensiun pas-pasan, kesehatan menurun, harta yang tertinggal tidak cukup untuk menjalani kehidupan sebagaimana saat masih aktif?

SO, apa lagi yang ditunggu?



Manajemen Risiko (tulisan 3)


Setiap kegiatan dalam perusahaan atau biasa dikenal sebagai Internal Business Process mengandung risiko, baik yang sifatnya operasional maupun yang bersifat strategis dengan dampak yang sanagt luas. Sehingga dalam menentukan mitigasi yang akan diambil, kita harus mampu menentukan apakah yang kita hadapi merupakan risiko operasional ataukah risiko bisnis yang mampu menghentikan proses operasi perusahaan.

Secara sederhana pekerjaan dalam manajemen risiko meliputi: Identifikasi risiko,Pengukuran risiko, dan Penanganan risiko.

Identifikasi Risiko.
Pekerjaan identifikasi adalah pekerjaan awal manajemen risiko yang paling mudah dilaksanakan, tetapi bila petugas/pelaksana identifikasi tidak punya kompetensi/kemampuan yang memadai, akan menghasilkan identifikasi risiko yang salah dan berakibat pada mitigasi yang salah pula. Pekerjaan awal ini akan menghasilkan output daftar risiko.

Bagaimana melakukan identifikasi risiko? Pekerjaan ini dimulai dengan melakukan analisis pihak berkepentingan (stakeholder), yang meliputi pemegang saham, kreditur, pemasok, karyawan, pemain lain dalam industri yang sama, pemerintah, manajemen itu sendiri, masyarakat dan pihak lain yang terpengaruh oleh adanya perusahaan.
Langkah berikutnya adalah analsis internal, yang dapat dilakukan dengan menggunakan 7S dari McKenzie, meliputi shared value, strategy, structure, staff, skill, system dan style.

Metode yang biasa digunakan dalam identifikasi risiko adalah analisis data historis, pengamatan&survei, benchmarking, dan pendapat ahli. Namun metode ini bisa juga didukung dengan tehnik lain yang dipandang perlu, misalnya analisis kontrak saat kita hendak melakukan transaksi dengan pihak ketiga. Analisis kontrak bertujuan untuk melihat risiko yang muncul karena kontrak tertentu. Risiko ini lebih berkait dengan risiko hukum. Spesifikasi kontrak yang tidak menyeluruh bisa menimbulkan celah-celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan meminta bagian hukum atau bagian kepatuhan ataupun lawyer perusahaan untuk memeriksa poin-poin dalam kontrak untuk menganalisis konsekuensi hukum jika kontrak dituliskan dengan redaksi tertentu.

Bagaimana mengukur Risiko?
Setelah risiko teridentifikasi, proses berikutnya adalah mengukur risiko. Jika risiko telah diukur, kita bisa melihat besar kecilnya risiko, sekaligus dampak bagi perusahaan dan melakukan prioritisasi risiko (risiko mana yang paling relevan). Pengukuran/perhitungan risiko dapat dilakukan dengan beberapa cara yang bisa dipilih, tergantung pada kemudahan dan kecocokan. Proses pengukuran risiko ini akan menghasilkan output berupa peta risiko.

Pengukuran risiko selalu mengacu pada ukuran kualitas dan kuantitas risiko, yaitu frekuensi, tingkat kemungkinan, likelihood atau seberapa sering terjadi dan dampak, impact, severity atau besarnya kerugian. Disamping kedua acuan tersebut, ada juga yang memasukkan unsur kecenderungan/trend dalam mengukur risiko.

Pengukuran risiko akan sangat tergantung pada jenis risiko atau karakteristik risiko tersebut, misal risiko pasar dengan risiko kredit akan menghasilkan teknik kuantifikasi yang berbeda dan dengan demikian pengukurannya juga berbeda. Risiko pasar diukur dengan VAR (value at risk) dan stress-testing, sedangkan risiko kredit diukur dengan credit rating dan creditmetrics. Begitupun risiko operasional akan diukur dengan teknik berbeda lagi misalnya menggunakan matrik frekuensi & signifikansi kerugian dan VAR operasional.

Bagaimana cara penanganan risiko?
Proses berikutnya setelah risiko berhasil diidentifikasi dan diukur adalah mengelola risiko. Jika perusahaan gagal mengelola risiko, maka dampak yang diterima akan cukup serius, misalnya kerugian yang cukup besar, demo mogok dari karyawan, demotivasi karyawan. Output dari proses penanganan risiko adalah rekomendasi pengelolaan risiko.

Pengelolaan risiko secara klasik bisa dilakukan dengan 4 cara yaitu penghindaran risiko (risk avoidance), pengurangan risiko yang bisa dilakukan dengan metode pencegahan, diversifikasi atau lindung nilai alamiah (natural hedging), pemindahan risiko (risk transfer) dan penahanan risiko (risk retention). Kegiatan lain yang erat kaitannya dengan manajemen risiko adalah pengendalian risiko (risk control) dan pendanaan risiko (risk financing).


Mungkinkah perusahaan perkebunan mengelola risiko?
United Grain Growers (UGG)
, perusahaan yang bergerak dibidang pertanian di Kanada, bisa mengasuransikan eksposur yang sebelumnya belum pernah diasuransikan, yaitu risiko cuaca. Risiko cuaca dintegrasikan dengan risiko lain dan kemudian diasuransikan. Praktek manajemen risiko UGG yang cukup inovatif mendatangkan penghargaan praktek manajemen terbaik dari beberapa lembaga yang berkompeten di bidang manajemen risiko.

Mengingat bisnis perkebunan juga dipengaruhi alam dan makin beragamnya risiko yang dihadapi perusahaan perkebunan termasuk PTPN dalam menjalankan bisnisnya, maka pengelolaan risiko adalah suatu keharusan (is a must).

Pengelolaan ini bisa dimulai dengan 3 langkah dasar sederhana sebagaimana dibahas diawal tulisan ini. Semisal kita berandai-andai, PTPN hendak menerapkan manajemen ditahun 2008 ini, PTPN sudah memiliki beberapa modal yang bisa dijadikan pijakan dalam bergerak.

Modal yang telah dimiliki dan juga yang harus ada di PTPN untuk melaksanakan manajemen risiko adalah:
-Kinerja terkahir (2008), hal ini telah disajikan dalam laporan manajemen dan telah disahkan kinerjanya oleh pemegang saham dalam RUPS yang baru saja lewat.
-Organisasi manajemen risiko, baik yang masih berada dibawah bidang/biro yang sudah ada maupun membentuk bidang manajemen risiko.
-Adanya “guru” dalam manajemen risiko, beberapa PTPN yang departemen keuangannya dikomandani oleh jendral dari perbankan, secara otomatis memiliki ”guru” dalam menerapkan konsep dasar manajemen risiko.
-Keyakinan terhadap manajemen risiko mulai muncul pada beberapa jajaran manajemen PTPN.
-Data dan informasi terinegrasi (dalam IT warehouse), beberapa PTPN telah investasi dengan nilai yang sangat besar untuk membangun fasilitas ini. Pemanfaatan fasilitas ini bisa dimulai dengan menjadikan data historis tentang curah hujan, produksi, produktivitas, harga, hutang, modal sebagai data base pengelolaan risiko operasional.
-Pandangan: “risiko milik semua”, pelan tapi pasti pandangan ini mulai mengkristal dalam setiap pengambilan keputusan bisnis PTPN.
-Model yang menghubungkan risiko dalam tataran tehnis dengan kinerja perusahaan, perlu dituangkan dalam bentuk tulisan agar dipahami semua jajaran perusahaan
-Dibuatnya corporate risk tolerance secara top down oleh BOD dengan persetujuan BOC.
-Dibuatnya peta risiko (risk map) yang dijadikan tolok ukur kinerja berbasis risiko oleh pihak intern PTPN maupun dengan bantuan konsultan.


Hal penting harus selalu diingat bahwa risiko bersifat dinamis (change management concept), sehingga siklus manajemen risiko harus selalu diikuti dan dijalankan dengan konsisten. Dengan telah dimilikinya modal dalam menerapkan manajemen risiko, dan tahu langkah/tahapan/proses yang perlu dilakukan dalam menerapkan manajemen risiko, maka kejadian menyalahkan sang Khalik atas ketidakmampuan dalam mengantisipasi dan menangani risiko operasional seperti ilustrasi cerita diawal tulisan ini tidak terjadi lagi.

Banyak pakar produksi dan tehnologi di negeri ini yang siap berkiprah dalam mencari solusi inovatif, tak mau kalah dengan para tenaga ahli Jepang yang mampu mengubah badai menjadi energi listrik, atau tanah/padang pasir di jazirah Arab yang gersang dan tandus dengan risiko kegagalan yang sangat tinggi akhirnya bisa menghijau dan menghasilkan produk pertanian berupa buah-buahan secara berlimpah, walaupun tidak seberlimpah buah-buahan dinegeri kita tercinta ini. Walahu alam bis shawab.