Senin, 30 November 2009

Dubai oh Dubai


Rasanya baru kemarin sore saat kita dibuat terbengong-bengong dengan kecanggihan bangunan-bangunan nan megah di Dubai, sebut saja seperti menara tertinggi di dunia Al-Buruj, area ski indoor, reklamasi pantai membentuk pohon kurma, Palms Islands yang konon cerita dibangun oleh Nakheel, anak perusahaan Dubai World, sebuah perusahaan investasi global pemerintah Uni Emirat Arab.

Minggu ini kita dibuat tercengang, saat konsorsium Dubai World mengajukan penangguhan utang pokok (standstill) sampai Mei 2010 kepada kreditur dari berbagai Negara Eropa.

Penangguhan pembayaran pokok, ataupun rescheduling utang bukanlah suatu hal yang aneh, karena itu memang salah satu fasilitas yang diberikan bank pada para pemakai kredit. Masalahnya jumlah utang pokok yang ditanggung konsorsium Dubai World tidak sedikit yaitu sebesar US $ 60 milyar, kalau diperhitungkan bersama dengan bunganya sekitar US $ 80 milyar. Wooouw…..besar juga ya.

Ya, memang bukan jumlah yang kecil, kita bisa ngerti bahwa kemajuan dan kecanggihan Dubai dibiayai tidak sedikit. Geliat pembangunan Dubai dimulai tahun 2000 jauh sebelum krisis ekonomi global yang dipicu krisis ekonomi Amerika.

sembilan tahun lalu, pada tahun 2000 Dubai seolah berlomba membangun berbagai proyek mercusuar, bahkan yang spektakuler tahun 2002 Nakheel berhasil menjual 2.000 unit vila mewah hanya dalam waktu 1 bulan, ya satu bulan, mungkin raja property Indonesia Ciputra belum pernah mengalaminya.

Pembeli vila mewah itu bahkan para selebriti dunia seperti Brad Pitt, David Beckham, Michael Owen. Bisa dibayangkan bagaimana promosi yang mereka tempuh sehingga selebriti dunia kepencut, kapan Indonesia bisa melakukannya ya. Sehingga tidak perlu pada kaum “wealthy” Indonesia berburu property di Australia, Singapura ataupun Amerika. Achh…alangkah indahnya kalau itu bisa terjadi.

Berbagai pihak saling berlomba meyakinkan dengan analisisnya bahwa krisis Dubai ini tidak akan sampai berimbas ke Asia begitu juga Indonesia, bahkan Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan bahwa krisi Dubai belum Nampak. Dan semoga memang tidak perlu Nampak, karena imbas krisis paman Sam saja sampai sekarang belum pulih benar, kalau harus ditambah dengan krisis Dubai, seperti apa nantinya perekonomian kita ini.

Semoga sistem keuangan kita cukup kuat menahan hembusan angin krisis Dubai, dan semoga para pemegang otorita keuangan tidak terlena, meski semua mata sedang terpana melihat aksi panggung markus Anggodo adik Anggoro.

Semoga krisis property tidak perlu terjadi karena kita punya menteri perindustrian Muhammad Sulaiman Hidayat yang punya latar belakang sebagai pengusaha property.

2 komentar:

Muh. Sholeh mengatakan...

Memang, Dubai Luar biasa. Kita butuh semangat untuk mencapai itu, tidak ada yang mudah, tetapi tidak ada yang tidak mungkin

PartaWinata Blog mengatakan...

perubahaan sosial akibat teknologi yang maju. walau berimbas ekonomi seret. tapi tetep mantap. ada hasil yang tidak sia-sia.